December 5, 2011

Cerita Steve Job "Stay Hungry. Stay Foolish" Part1

Berikut cerita menarik tentang steve job yang dikutip dari grup Teknik Informatika Riau di facebook
Pidato Steve Jobs saat acara pelepasan wisudawan Stanford tahun 2005

Aku merasa terhormat bersama kalian hari ini saat kalian diwisuda dari salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia. Aku sendiri tidak pernah lulus dari kampus. Jujur kubilang, ini adalah momen paling intim yang pernah aku peroleh dengan acara wisuda perguruan tinggi. Hari ini aku ingin menceritakan tiga kisah dari hidupku. Itu saja. Tidak banyak-banyak. Cuma tiga kisah.

Kisah pertama ialah tentang menghubungkan titik-titik.

Aku putus kuliah dari Reed College setelah 6 bulan pertama, tapi masih 'beredar' sebagai mahasiswa lepas selama 18 bulan kemudian sebelum aku betul-betul keluar dari sana. Kenapa aku berhenti kuliah?



Semuanya dimulai sejak aku dilahirkan. Ibu biologisku seorang mahasiswi yang belum menikah, dan dia memutuskan untuk menyerahkan aku untuk diadopsi. Dia berkeras aku harus diadopsi oleh lulusan perguruan tinggi, sehingga semuanya sudah diatur supaya aku diadopsi sejak bayi oleh satu keluarga ahli hukum. Tapi saat aku muncul, keluarga itu memutuskan pada menit terakhir bahwa mereka ingin anak perempuan. Maka orangtuaku yang sekarang, yang sudah ada di daftar tunggu, mendapat telpon tengah malam: "Kami punya bayi lelaki yang tak diharapkan; kalian mau?" Orangtuaku menjawab: "Tentu saja." Ibu biologisku mendengar bahwa calon ibu angkatku ini tidak pernah lulus kuliah sementara suaminya tidak pernah lulus SMA. Dia menolak menandatangani dokumen akhir adopsi. Dia baru menyerah beberapa bulan kemudian ketika orangtuaku berjanji suatu hari nanti aku akan kuliah.

Dan 17 tahun kemudian aku betul-betul kuliah. Tapi aku dengan naif memilih perguruan tinggi yang sama mahalnya dengan Stanford, dan semua tabungan orangtuaku yang kelas pekerja itu dihabiskan untuk membayar SPP. Setelah enam bulan, aku tidak melihat semua ini ada gunanya. Aku masih tidak tahu apa yang ingin aku kerjakan dalam hidupku dan tidak tahu juga bagaimana perkuliahan bisa membantuku mencari jawabannya. Dan aku terus menghabiskan uang yang telah ditabung orangtuaku seumur hidup mereka. Maka aku memutuskan untuk berhenti kuliah dan mengimani bahwa akhirnya semua akan baik-baik saja. Lumayan menakutkan situasi waktu itu, tapi sekarang saat menoleh ke belakang, itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah aku ambil. Pada menit aku putus kuliah, aku bisa meninggalkan kelas-kelas wajib yang tidak menarik minatku, dan mulai mengikuti kelas-kelas yang terlihat menarik.


Tidak semuanya romantis. Aku tidak punya kamar asrama, jadi aku tidur di lantai kamar-kamar temanku. Aku mengembalikan botol-botol minuman sehingga uang-uang deposit 5 sen (per botol) bisa kupakai membeli makan, dan aku akan berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk memperoleh seporsi makan malam lengkap di kuil Hare Krishna. Aku suka ini. Dan banyak sekali dari yang aku temui lewat proses mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi ternyata akan menjadi tak ternilai harganya kemudian. Aku berikan satu contoh:

Reed College pada waktu itu menawarkan mata kuliah kaligrafi terbaik di seluruh negeri. Di mana-mana di kampus, setiap poster, setiap label di laci, dikaligrafi dengan tangan begitu indahnya. Karena aku sudah bukan mahasiswa resmi dan tidak mengikuti kelas-kelas wajib, aku memutuskan untuk ikut kelas kaligrafi untuk belajar membuatnya. Aku belajar tentang jenis huruf serif dan sanserif, tentang membuat variasi jarak di antara kombinasi huruf yang berbeda, tentang apa yang membuat satu tipografi terlihat bagus. Pengetahuan ini indah, halus secara artistik dan historis, sedemikian rupa sehingga tak bisa ditangkap oleh sains, dan aku menganggapnya memikat.

Tak ada bagian dari mata kuliah ini yang tampak berguna untuk hidupku. Tapi sepuluh tahun kemudian, ketika kami sedang merancang komputer Macintosh yang pertama, semuanya teringat kembali. Dan kami memasukkan semuanya ke dalam rancangan Mac. Inilah komputer pertama dengan tipografi yang indah. Kalau saja aku tidak pernah ikut kuliah lepas itu di perguruan tinggi, Mac tidak akan pernah punya jenis huruf bervariasi atau huruf-huruf yang ditata proporsioinal. Dan karena Windows cuma meniru Mac, mungkin saja tidak ada komputer pribadi yang akan punya semua itu. Kalau aku tidak pernah putus kuliah, aku tidak akan pernah ikut kelas kaligrafi ini, dan semua PC mungkin tidak akan punya tipografi indah seperti sekarang. Tentu saja mustahil 'menyambung titik-titik' dengan melihat ke masa depan saat aku masih di bangku kuliah. Tapi semuanya jadi sangat amat jelas jika aku menoleh ke belakang sepuluh tahun kemudian.

Sekali lagi, kalian tidak bisa menyambungkan titik demi titik sambil melihat ke depan; kalian hanya bisa melihat koneksinya saat melihat ke belakang. Jadi, kalian harus percaya bahwa titik-titik itu entah bagaimana kelak akan tersambung di masa depan kalian. Kalian harus mempercayai sesuatu — keberanian, takdir, jalan hidup, karma, apa pun sebutannya. Pendekatan ini tidak pernah mengecewakanku, dan telah menyebabkan semua perubahan dalam hidupku.


Bersambung di Part 2
Categories: ,

0 komentar:

Post a Comment

komentar mu..?